LAPANG

                                                            

Kupeluk wanita itu namun  dalam waktu bersamaan ingin rasanya aku mengoyak baju hitam yang dikenakanya. Tapi, aku tau deritanya lebih panjang terlihat dari  jemarinya yang bergetar bahkan sudah tak mampu membalik lembaran yasin. Bibirnya basah,  liurnya asam  bercampur air mata. Semua yang hadir komat-kamit membaca kalam itu

“Fal-yauma laa tuzhlmu nafsun sya’aw walaa tujnauna ilaa maa kuntumta’maluun.”

“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang kamu kerjakan.” 

Saat mendengar bacaan tersebut, wanita itu tak kuasa menahan kecamuk dilepasnya tanganku, diusap-usapnya dadanya, sesegukan seperti sudah tak sanggup lalu ia berteriak memanggil nama mayat didepannya. Dipukul-pukulnya tubuhnya dengan kuat,  tiba-tiba ia bersujud menghantuk-hantuk kepala kelantai semua pelayat kaget bukan main, ia tidak sadar cucuran darah sudah keluar dari kepalanya. Semua orang berkerumung. Tedengar gema suara “sabar ti..sabar” orang-orang mungkin heran mengapa wanita itu menangis layaknya orang gila kehilangan jiwa, padahal ia dikenal tak punya hubungan terlalu dekat dengan Almarhum. Aku diam saja, sesekali bisikan dihatiku 

“Bajingan kau wanita terkutuk!”

“Bajingan keji!”

Memandang tubuh biru didepanku tersenyum, hasutan jahanam itu menghilang. Selendang puring putih kubuka, kuusap-usap keningnya, dia wangi sekali. Tanah tidak akan pernah mengutuk jasadnya. 

Aku dan 'anan' tinggal disebuah rumah panggung, didesa Paya Reje, Gayo.“Belang berpancang, uten bertene, nahma terahku” pepatah menyebut daerah ini seperti itu, hutan yang telah dipugar adalah hak atas nama pemilik. Nenek Moyang menancapkan batas yang tegas akan untuk apa tanah dan hasil bumi daerah ini. 

Alam sangat pemurah pada kami masyarakatnya, didepan dirumah  panggung agak renyot itu, ada kolam ikan mujahir, disampingnya sangat banyak tumbuhan untuk memasak yang bisa dipetik, anan membuat ku menjadi cucu yang makmur dan mandiri pangan. Kami memang hampir tidak pernah singgah diwarung. Kursi favoritku ada disebuah dapur petak kecil berukuran 5x6 meter, lantainya masih setengah tanah, alat-alat masak anan kebanyakan terbuat dari tanah liat kering, anan juga suka tempat itu, aku melihat ada raut wajah bahagia tersendiri apalagi saat ia menyusun jenis bumbu-bumbu khas daerah di sisa toples permen saat aku kecil dulu.

Dapur ini, sangat berarti dalam memahat cerita. Menemani wanita keriput yang lembut ini memasak sambil bercengkrama merupakan sajian yang paling istimewa bagiku, semua kisah bisa dihidangkan dengan sangat baik. Ya, wanita ini adalah permata hati yang sangat aku hormati, di dapur ia menjadi sosok yang lebih anggun dari bunga-bunga mawar yang ditanamnya di kebun belakang. 

***

Pagi itu aku mengorek-ngorek tanah, mencari cacing untuk umpan. Sambil mengingat kata-kata sontoloyo dari si Boneng kemarin, ia sungguh membuat hariku lecek. Aku tidak bergairah sekali bahkan untuk membunuh makhluk yang meliuk-liuk didepan ku. Ku ambil batu tajam, kuhantamkan dengan kuat, terbelah-belah makhluk malang itu menjadi beberapa bagian. Hari ini aku hanya dapat tiga ikan mujahir. 

“Wen…Wen” panggil anan dari atas rumah panggung. Aku dengar tapi tidak menyahut, lebih memilih langsung lari ke atas dan menghadap anan. Aku memang tidak akan mau menyahut anan dari kejauhan. Bagiku tuntunan agama benar jika mengatakan “ah” saja berdosa  pada orang tua, maka menyahut dari kejauhan juga begitu, tidak sopan. Ngos-ngoan kubawa sember tangakapan keatas, tanganku amis terlihat anan sedang memotong jeruk nipis, kuambil setengaHnya kuremas-remas agar bau itu hilang. Aku duduk dan membuka percakapan. 

“Nan kemarin disekolah, aku memukul seorang teman?” Anan agak tersentak. Di wajah 68 tahun, itu kerutan kekhawatiran bercampur penuaan sulit dibedakan. Seperti biasanya anan tidak pernah tersulut atau dibawa emosi. 

“Kenapa memukul Wen?” Kau ini bukan anak kecil lagi sudah 16 tahun.” kata anan sambil mengiris bawang.

Anan tau kan Si ekong boneng anak bu Astuti  yang ibunya menjual nasi dikantin sekolah?  Ia tadi membawa lauk dan mengatakan lauk terenak adalah buatan ibu kita sendiri, tapi aku bilang belum tentu karena lauk terenak bagiku adalah buatan anan. Lalu dia sedikit menertawakanku dan bilang kalau aku bilang begitu karena karena aku hanya mengelak saja dikarenakan ibuku sendiri tidak ku tak merawatku dan tidak pernah memasak untukku. 

Tangan anan mengambil ikan segar diember yang siap dimasukan kedalam campuran bumbu Masam Jeng. Sambil mendengarkan omelanku, anan tampak tenang, tetap melanjutkan masak. Aku nyeletuk.

 “Aku kan dititipkan Tuhan kepada ibu, kenapa aku dititipkan lagi?”

 Setelah ikan masuk kedalam gerabah yang telah dipanaskan aroma bumbu mulai meresap kedalam kulit-kulit ikan dan menimbulkan sensasi aroma khas asam pedas, anan duduk dikursi meja makan tepat di depan kursiku. Anan memang sosok yang penuh petuah.

            “Siapa yang bilang begitu?” kata anan sambil mengilap tangannya dikain kusam yang digantung digantung rak piring.

“Ibumu itu sedang meramu ilmu di negeri yang jauh, agar bisa membawa pulang hal yang bermanfaat, memang kamu dititipkan, namun Tuhan tak lantas membuat mu terlantar kan? Kita harus banyak bersyukur Wen.”

Aku diam sejenak, kemudian tersenyum, berfikir dan betapa beruntungnya aku dititipkan pada sosok seperti di depanku ini. 

Menurutku ilmu yang paling bermanfaat yang pertama kali dari anan  ialah, anan orang yang membuatku tidak pernah menyesali dan membuat hidup terlalu menyedihkan. Karena itu adalah tidakan konyol, secara jelas memang benar Tuhan tidak buta dan tidak pernah menelantarkan siapapun. Aku tetap tumbuh, sehat bisa makan ikan setiap hari dari tangkapan kolam atau bisa bahagia dari sekedar ketika bercengkrama dengan sore dan bunga-bunga yang ditanam anan di kebun bawah atau dari sekedar mengusir tupai yang membagun keluarga harmonis di atas perapian rumah panggung tua itu. 

Setiap pagi anan selalu mengulang ayat  Al-Qurannya, ia punya surat kesukaan.

“Alam nasyrah laka shadrak”

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”

Setiap habis sholat shubuh anan selalu menasehatiku  jika berlebih dalam keinginan dan tamak dalam menjalani keseharian adalah sikap yang menunjukan tidak tersambungnya kita dalam dengan sifat “ke-rahiman” (pengasih dan penyayang) ya, sifat yang melekat kuat saat kita berada kandung ibu. Karena pengasih atau dengan kata lain “pemurah hati”, sangat tercermin saat dulu kita dalam cairan ketuban, kita tidak pernah protes ini itu, tinggal ditempat yang sempit begitu masih bisa tidur nyeyak. Goyang-goyang, berputar, menghisap jari bahkan makan seadanya ketika ibu sedang tidak mood makan.

Sedikit aku bisa memaafkan si Ekong karena nasihat anan. Ya, sedikit saja, tidak tau besok. 

***



Besoknya kubuka Mata, suara gemericik air dari loteng terdengar seperti sambutan pagi yang hangat, menyadari bahwa tidak melakukan apa-apa disaat seperti dan menarik nafas sambil merasakan udara masuk ke dada bukanlah sia-sia.Ya, semua manusia butuh momentum untuk melapangkan, bisa saja suatu saat kita kehilangan kesempatan karena dimakan oleh sibuknya diri kita dimasa depan.  Pagi itu, anan sudah bangun duluan, wanitaku itu bukanlah putri tidur, ia suka bercengkrama dengan sepertiga waktu malam. 

“Wen, ini sudah Aku buatkan sayur labu, makan bersiaplah, sudah pukul berapa ini?”

Walau Aku masih urung melangkah Karena kejadian lalu itu tapi, benci sekali aku waktu anan memberi rantang putih, ku kira itu untuk ku makan siang tapi ternyata ia buatkan untuk si boneng, bukankah ini keterlaluan? siapa yang menghina siapa yang memberi makan? terasa sekali rantang itu masih hangat berisi ikan pengat dan cecah agur.

“Bilang ini permintaan maafmu dan salam anan untuk bu Astuti.” 

Aku tak pernah tau anan mengenal Astuti, membeli di kantin-nya saja aku sudah ogah. Ku bawa rantang itu, Karena aku tidak niat kuah pengatnya tumpah-tumpah, rasanya tanganku sedang mengangkat beban berat.

Kulihat siboneng sedang meledek sesorang anak sambil mengambil topinya lalu dibawa lari. Aku heran apakah sikap buruknya itu karena keseringan makan micin, atau mengonsumsi berbagai sinetron Indonesia seperti "Anakku bukan anakmu, Mertuaku benci kamu tapi tidak aku, Jangan ambil hartaku, Karena milik suamiku" atau apa? Dia terlihat buruk. Aku gengsi sekali memeberi rantang itu, takut ditertawakan teman-teman atau malah ditolak olehnya, jika hal itu terjadi habislah dia Ku buat.

Alhasil Aku menunggu saat yang tepat.
“Ring...ring...ring..” 

Pukul 13.00 telah usai juga jam sekolah, ku ikuti si boneng, demi amanah sebuah makanan agar sampai, aku lapar ingin ku buka dan ku makan saja lauknya di tengah jalan, tapi aku teringat bahwa aku tidak pernah diajari begitu oleh ananku.

Ku ikuti sampai rumahnya, Kakiku pegal ternyata jauh juga. Ketika dia masuk ku ketuk pintu, mempersiapkan  senyum palsu, susah juga, si Boneng masuk aku tetap di luar beberapa menit merapikan baju agar telihat tulus dan anak baik-baik.

“Tok..tok”

“Srett.. terlihat seorang lelaki jangkung membukakan pintu, namun ketika melihatku.


“Dubrak!”

Ia banting pintu itu seolah melihat hantu, aku merinding. Apa kuntilanak desa mengikutiku dari tadi karena Aku membawa amarah setan dari pergi skolah tadi? Ku ketuk lagi. 

“Tok.Tok.Tok” 

 Gagang pintu itu terbuka, bola matanya mengadah ke bawah, mukanya merah, ia mengintip aku, terlihat gugup sekali. 

“Pak, ini aku titipkan untuk boneng buatan nenekku, kata nenek salam untuk bu Astuti”

Kukeluarkan senyum palsu yang sudah kulatih, kurasa aku benar-benar diikuti makhluk halus seperti ditampar tuyul, senyumku susah simetris.

“Pak ini ya” Semoga suka masakan nenek.” kututup tampa basa-basi

 Ia langsung menutup pintu lagi dan mengambil cepat-cepat rantang itu. Aku ingin berfikir masa bodoh namun tak bisa kutepis rasa penasaran,  apa ini karena aku kualat terlalu menyimpan dendam kesumat dengan  keluarga ini ya? Aneh memang.

Ku lanjutkan langkah. Di jalan aku sesekali memetik rerumputan yang kulalui lega sekali karena aku bisa memenuhi permintaan bidadariku pasti ia sudah masak enak, perutku sudah bunyi dari tadi. Aku sedikiti berlari sampai tali sepatuku bergelantungan ku abaikan. Aku sudah tidak sabar bercerita dengan ananku mengenai kejanggalan-kejanggalan yang kutemui. 

Di meja aku melihat rantang yang sama persis seperti rantang yang  putih yang kuantar ke rumah Bu Astuti. Sudah terbuka.

Ada tulisan, “Ini kubuatkan untuk Wen”

Ternyata, bu astuti Masih sedikit waras, sebelum kucoba masakan itu, aku heran warna nya khas sekali terlihat seperti pengat juga hampir sama seperti punya nenek dari tampilannya. Ku panggil anan

“Nan?”

“Nan?”

Tidak ada sahutan, aku tidak mau ganti baju. Karena tak ada sahutan, ku buka gorden kamar anan. Ku lihat ia di tempat tidur, Ku goyang-goyangkan kakinya, tapi tidak bangun-bangun.


“Nan?”

Ku balik badannya, aku seperti merasa tertarik ketanah bawah rumah panggung, kacau sekali, ananku sudah biru, wajahnya dingin. Ia mayat saat ini. 

“Tuhan pasti sedang bercanda kan?” Aku tidak percaya pagi tadi adalah hari terkahir aku melihat matahariku, pagi terkahir aku bisa merasakan labu buatnya.

 Masih tidak percaya, aku lari ke kamar mandi, kubasahi rambutku, berharap aku hanya halusinasi karena dari tadi aku penuh benci. Kutepuk tepuk pipiku. Sekarang aku tersengat rasanya hampa, hening, dan sakit sekali.

 “Oh, Tuhan kenapa?”
Terdengar suara lari-lari dari tangga, tapak itu terlihat tidak ramai ia langsung mendobrak  pintu.

 Aku tau itu Astuti. Si penjual nasi di kantin sekolah kami, Ia datang pakai daster bercorak merah, sudah berlumur keringat dan memelukku erat sekali.

“Mana ananmu?”, tanyanya.
“Maafkan Aku, maafkan Aku, maafkan Aku!” ia mengoyang-goyangkan badanku.

Astuti panik, 

“maafkan aku”

“Aku tidak mengerti?”
“Maaf?”
“Apa?”
“Kenapa?”

Aku hanya memikirkan anan,  karena memang aku tidak tau ingin bersender kesiapa aku sedih bukan main, bu astutilah yang hanya bisa membantu kala itu untuk sekedar bilang dan umumkan kemesjid bahwa ananku tiada, Aku lumpuh total. Tapi, terrnyata bu Astuti Makin, menjadi-jadi ktika dia tau ananku meninggal seolah-seolah mengenal lama anan.

“Aku yang membunuhnya.”


Mendengar itu, aku seperti setengah ajal.


“Ada apa Tuhan?”

“Sebenarnya itu membunuhmu, racun di makanan itu”

Aku terhuyung, mata ku sudah bengkak mau keluar, kepala ku berputar ingin kujambak  rambut dibalik jilbab yang dikenakannya. Dikeluarkan astuti dari kantung baju dasternya surat sudah koyak-koyak remuk. Surat itu berbau tumpahan masakan masam jeng, aku tau ini pasti diletakan dibawah rantang yang kuantar pagi tadi kelelaki didepan pintu. 

Ku buka, itu tulisan anan. Lidahku sudah kelu, bola mataku berjalan mengikuti deretan huruf-huruf dari tulisan ananku.

Astutiku yang cantik.. Bagaimana kabarmu nak, apakah baik? Walau Aku tidak pantas dipanggil seorang ibu Karena tidak bisa mendidik satu-satunya wanitaku. Tapi kau sudah seperti anakku sendiri. Aku merindukan kau dan Nina.

Akulah yang menyuruh Nina tidak menggugurkan kandungannya, walau ia memang seperti wanita terkutuk, membangun hubungan haram dengan suami temannya sendiri. Nina ingin kabur dari kampung ini ia kacau dan berubah fikiran, dua hari  sejak Wen lahir Nina sebenarnya tidak pergi keluar Kota, tapi dia pergi untuk selamnya, dia memotong nadi tangannya, karena tidak sanggup kelak mengasuh anak haram.

Tapi kelahiran adalah perencanaanya Tuhan astuti, maafkan Aku, maafkan Wenku, maafkan kami. Kudengar Wen memukul anakmu, maafkan Wenku, ia masih sangat merindukan ibunya. Belum sanggup Aku berkata padanya jika di belakang ada kuburan yang aku buat untuk mengubur ibunya. Tidak Ada yang tau Wen adalah anak suamimu, orang-orang mengira Nina memang pergi keluar kota dan hamil karena menikah di sana.

Astutiku sayang, ini kubuat kan makanan yang bumbunya kita racik bersama di dapur 18 tahun lalu bertiga bersama Nina saat kau main kesini. Aku membuatnya sama, main-mainlah kerumahku 

Aku sangat rindu. Ninaku dan Astutiku
Maaf

Setelah membaca itu, dadaku Makin sesak, rasanya ingin aku lompat saja, ternyata Aku benar- benar sudah ditinggal.

Ananku mengantar makanan dengan permintaan maaf selembut awan, tapi seseorang mengantar makanan agar dia ikut ke kekuburan bersama ibu. Kenapa bukan aku saja yang menelannya?kenapa?

Pahit memang, ingin aku masukan Astuti ini bahkan bukan kepenjara, tapi ke neraka tapi aku tidak berkehandak.

Tiba-tiba wajah anan melintas-lintas, beserta bacaan yang sering dilantunkannya                               


  “Alam nasyrah laka shadrak”

  “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”


Edelwis Mentovani Diara

Yogyakarta, 2018

“Lapang” masuk ke dalam 25 cerpen finalis di Lomba Cerpen Nasional NulisIndonesiana x Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI x Storial.co. Cerpen ini dibukukan untuk menjadi arsip pribadi seluruh finalis. 


















.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Atas Dasar Apa?

BEBEK